Aku Joni seorang pelajar SMA di salah satu sekolah di Sidoarjo. Hidupku penuh dengan penderitaan dan hampa akan kasih sayang dari kedua orangtuaku sehingga aku terlahir menjadi seorang pemberontak, serta penghianatan cinta yang nggak pernah bosan menghampiri diriku. Semua itu yang membuat aku pergi dari kota kelahiranku dan bersinggah di Mojokerto hingga saat ini.
Beberapa hari di mojokerto bagiku sudah terlalu lama, karena apa yang kuharapkan tanda Tanya dalam hatiku. Tak terasa perjalanan ini sangat melelahkan padahal tujuan yang kuharapkan belum tercapai. Diruangan kecil tempat aku tinggal dirumah pamanku dibelakang gedung tua sering kulayangkan curahan-curahan hatiku yang semakin lama semakin gelisah. Terkadang pula sering ku renungkan semua yang pernah terjadi dalam hidupku, entah berapa banyak harapan yang telah sirna ditelan pahitnya sang waktu.
Ketika sang hujan menemani sepinya malam yang ku lalui di gedung tua besar yang didalamnya tertata jejeran ukiran dipan, meja, serta almari jati turut juga menemani kesunyian ini. Walau mereka tidak bias apa-apa tapi mereka cukup baik sebagai sahabat dalam kesedihanku.
Setelah beberapap hari akhirnya aku menduduki kelas baruku, sekolah ini bagiku biasa saja nggak asa yang menarik. Tapi aku harus tetap bisa beradaptasi dengan lingkungan sekolah ini agar aku dapat bertahan menghadapi pedihnya sang waktu. Hari demi hari kulalui di sekolah yang menurutku membosankan. Tapi aku bersyukur karena aku telah mendapat teman baru, setidaknya aku bisa lupain masalahku dengan adanya mereka. Puji, Ariel, Efi, dan Wina merekalah yang bersedia menemani hari-hariku di mojokerto.
Aku selalu bercanda tawa dengan mereka. Seolah-olah aku ini orang yang bisa menghibur. Mereka masih belum memahami apa yang tersembunyi dibalik semua itu. Mereka masih belum mengenal siapa aku yang sebenarnya. Mereka masih belum tahu kebenaran yang tersembunyi dibalik canda tawaku. Padahal semua itu hanyalah sandiwara dari sebuah kehidupan serta sebuah pendekatan untuk mengetahui siapa dan seperti apa kepribadian mereka. Aku hanya ingin tahu dibalik wajah-wajah mereka, adakah yang tersembunyi suatu hal yang sentiment padaku dan sejauh mana mereka mengetahui akan kesetiakawanan yang terdapat dalam diriku kepada mereka. Aku ingin tahu lebih jelas karakter temen-temenku karena bagiku itu semua merupakan pengukuran sosialisasi dalam memahami kehidupan di lingkungan sekolah.
Ting... ting.... ting.....
Bel istirahatpun berbunyi memanggil semua murid untuk keluar dari kelas mereka. Aku, Puji, Ariel, Wina, dan Efi istirahat bareng dibawah pohon, tempat biasa kita nongkrong waktu istirahat. Ditempat inilah kita saling sharing, tukar informasi dan sebagainya. Ditengah keasyikan cerita, tiba-tiba puji nanya ke aku.
“sob, napa lo pindah ke mojokerto...?”
“ya nggak papa pud, gue cuman pengen cari ilmu dan konsen ma studi ku”
Dalam hatiku berkata “maaf pud, sebenarnya aku pengen ngelupain kekacauan dalam keluargaku dan ngelupain antrian penghianatan cinta yang nggak bosan-bosan hampiri aku.”
“ kalo mau konsen ma studi lo, napa nggak di tempat lo aja, kan fasilitasnya lebih ngedukung”
“emang bener sih, tapi..... udah jangan jangan Tanya lagi, nggak penting kale”(jawabku mengalihkan topik)
Dari sini lah aku dan mereka jadi saling akrab. Setelah beberapa minggu, ketika pulang sekolah puji mampir kerumahku ( rumah pamanku ) kelihatannya sih mau cerita sesuatu sama aku.
“sob, tau nggak... hari ini gue seneeeenggg banget” kata puji
“bahagia kenapa coy.....?”
“nggak tau juga, tiap kali deket sama dia, serasa hati ini terbaaaaaaaanggg melayang..”
“cie-cieeee.... roman-romannya ada yang jatuh cintrong ni.....” ledek ku
“ngawur lo... tapi kalo dipikir-pikir ada benernya juga”
“mange sapa she yang buat sahabatku ini terbang melayang...??”
“WINA..” jawab puji dengan tenang
“haaahhh.... si wina..?? ya nggak papalah, disamping dia cantik dia juga smart”
“iya sih, tapi gue nggak berani ngungkapinnya”
“ napa nggak berani, wajarkan cowok nembak cewek”
“ bukan itu masalahnya, gue ama wina kan udah temenan dari smp, jadi doi pasti nganggep gue ini cuman sohibnya aja nggak lebih trus gue juga takut doi nolak”
“yaaa.... gue cuman bisa do’a semoga kalian bisa jadian”
Setelah lama cerita tentang si wina, puji pamitan pulang.
Malam harinya aku merenungkan omonganku tadi sore, bahwa sebenarnya aku ini juga merasakan getaran-getaran cinta dihatiku dan cewek yang sudah menggetarkan hatiku adalah wina. Dimana perhatianku selalu tertuju padanya, tapi aku nggak berani ngungkapin perasaanku karena yang ku cintai dicintai sahabatku. Aku nggak bisa berbuat banyak akan cintaku. Aku hanya bisa mengamati dan memberikan solusi yang baik bagi cintanya Meskipun pedih untuk kurasakan. Tapi cintaki malah kujadikan sebagai motivasi untuk menggapai cita-cita dan mencari ketenangan hati dan jiwaku.
Keesokan harinya disekolah aku masih bercanda tawa seperti biasa, celotehan efi yang selalu mengocok perut tak terlupakan seolah-olah menjadi makanan kita sehari-hari. Puji pun asyik mengobrol sama wina, ditengah-tengah kesyikan mengobrol tiba-tiba seorang cewek ( namanya fara ) menyela pembicaraan mereka.
“ sorry pud, pinjem winanya sebentar”
“ okeh “
Fara dan wina pun mengobrol, nggak tau masalah apa yang dibicarain mungkin itu masalah cewek. Saat farad an wina ngobrol, puji pun menghampiri aku dan bertanya dengan suara lirih.
“ sob.... gimana nih.. gue nembak wina sekarang...?”
“ ya terserah lo pud” jawabku lirih
“ semoga cintaku diterima” tuturnya
“ aku do’akan moga berhasil”
Setelah farad an wina selesai ngobrol, puji langsung menghadap wina dan nyuekin aku begitu saja.
“ win.. aku mau bilang sesuatu sama kamu”
“ iya, trus..”
“tapi kamu nggak marah kan kalau aku bilang akk.... akuu....” ujar puji gugup
“ kamu kenapa...? kamu sakit...??? ”
“ nggak win, tapi aku akan sakit jika kamu nggak nerima aku”
“nerima apa...??”
“aku berharap semoga aku bisa menjaga langkahku dan cintaku menuju wisma cintamu. Bolehkah cintaku ini kubawa ke wisma cintamu....?”
“aku nggak nyangka pud, tapi sebenarnya aku juga punya perasaan yang sama seperti kamu.”
“apa maksudmu..?”
“pintu wisma cintaku akan kubuka lebar untuk cintamu”
“itu artinya kamu nerima aku...?” Tanya puji penasaran
Wina Cuma menganggukkan kepala dan tersenyum bahagia.
“ Yeachh....” teriak puji
“ Akhirnya jon perjuanganku nggak sia-sia”
Aku, efi, ariel, turut gembira dan mengucapkan selamat kepada mereka. Itu kulakukan semata-mata untuk menutupi kepedihan hatiku atas cintaku yang tak sampai. Sekaligus menjadi kado pertama dihari ultahku yang ke-19. Mereka semua tidak ingat akan hari jadiku, hari dimana aku dilahirkan, dimana aku seharusnya mendapat kebahagiaan, tapi dengan tidak sengaja mereka memberiku kado special yang seharusnya menjadi kado kebahagiaan tapi menjadi kado yang menyakitkan hati.
Dan aku sebagai teman yang baik hanya bisa mengucapkan selamat. Aku hanya bisa berdo’a semoga mereka bahagia dalam mengarungi samudera cinta yang begitu luas dan melelahkan jiwa. Semoga tidak ada kata perpisahan diantara mereka dan jangan putus asa meskipun itu pedih untuk kalian rasakan.
Aku hanya bisa mencintai dan menutupi kenyataan yang ada. Aku akan mengubur dalam-dalam serta menutup pintu hatiku buat wina. Meskipun semua itu terlalu sulit, sedangkan nurani nggak bisa diajak kompromi.
Semua itu kulakukan demi persahabatan antara aku dan mereka meskipun perjalanan hidup ini harus kunikmati dengan kepedihan, kutahu semuanya itu berat bagiku untuk melupakannya tapi aku orang yang ngerti akan keadilan , mana mungkin aku harus merebutnya dari teman baikku. Aku nggak mau menghianati teman baikku meskipun aku sering menjadi korban penghianatan cinta dan bayang-bayangmu selalu menghantui hari-hariku. Ku akan tetap pada pendirianku, selama mereka sudah tidak terjalin hubungan, mungkin aku masih bisa menerimanya sebagai pendamping hidupku.
Aku akan selalu menantimu disaat cinta ini masih tertuju padamu. Cinta nggak harus memiliki tapi cinta member kebahagiaan bagi yang dicintainya. Sang cinta yang tak tersampaikan, inilah cintaku yang sekarang ini.
BY : NOEZ
Beberapa hari di mojokerto bagiku sudah terlalu lama, karena apa yang kuharapkan tanda Tanya dalam hatiku. Tak terasa perjalanan ini sangat melelahkan padahal tujuan yang kuharapkan belum tercapai. Diruangan kecil tempat aku tinggal dirumah pamanku dibelakang gedung tua sering kulayangkan curahan-curahan hatiku yang semakin lama semakin gelisah. Terkadang pula sering ku renungkan semua yang pernah terjadi dalam hidupku, entah berapa banyak harapan yang telah sirna ditelan pahitnya sang waktu.
Ketika sang hujan menemani sepinya malam yang ku lalui di gedung tua besar yang didalamnya tertata jejeran ukiran dipan, meja, serta almari jati turut juga menemani kesunyian ini. Walau mereka tidak bias apa-apa tapi mereka cukup baik sebagai sahabat dalam kesedihanku.
Setelah beberapap hari akhirnya aku menduduki kelas baruku, sekolah ini bagiku biasa saja nggak asa yang menarik. Tapi aku harus tetap bisa beradaptasi dengan lingkungan sekolah ini agar aku dapat bertahan menghadapi pedihnya sang waktu. Hari demi hari kulalui di sekolah yang menurutku membosankan. Tapi aku bersyukur karena aku telah mendapat teman baru, setidaknya aku bisa lupain masalahku dengan adanya mereka. Puji, Ariel, Efi, dan Wina merekalah yang bersedia menemani hari-hariku di mojokerto.
Aku selalu bercanda tawa dengan mereka. Seolah-olah aku ini orang yang bisa menghibur. Mereka masih belum memahami apa yang tersembunyi dibalik semua itu. Mereka masih belum mengenal siapa aku yang sebenarnya. Mereka masih belum tahu kebenaran yang tersembunyi dibalik canda tawaku. Padahal semua itu hanyalah sandiwara dari sebuah kehidupan serta sebuah pendekatan untuk mengetahui siapa dan seperti apa kepribadian mereka. Aku hanya ingin tahu dibalik wajah-wajah mereka, adakah yang tersembunyi suatu hal yang sentiment padaku dan sejauh mana mereka mengetahui akan kesetiakawanan yang terdapat dalam diriku kepada mereka. Aku ingin tahu lebih jelas karakter temen-temenku karena bagiku itu semua merupakan pengukuran sosialisasi dalam memahami kehidupan di lingkungan sekolah.
Ting... ting.... ting.....
Bel istirahatpun berbunyi memanggil semua murid untuk keluar dari kelas mereka. Aku, Puji, Ariel, Wina, dan Efi istirahat bareng dibawah pohon, tempat biasa kita nongkrong waktu istirahat. Ditempat inilah kita saling sharing, tukar informasi dan sebagainya. Ditengah keasyikan cerita, tiba-tiba puji nanya ke aku.
“sob, napa lo pindah ke mojokerto...?”
“ya nggak papa pud, gue cuman pengen cari ilmu dan konsen ma studi ku”
Dalam hatiku berkata “maaf pud, sebenarnya aku pengen ngelupain kekacauan dalam keluargaku dan ngelupain antrian penghianatan cinta yang nggak bosan-bosan hampiri aku.”
“ kalo mau konsen ma studi lo, napa nggak di tempat lo aja, kan fasilitasnya lebih ngedukung”
“emang bener sih, tapi..... udah jangan jangan Tanya lagi, nggak penting kale”(jawabku mengalihkan topik)
Dari sini lah aku dan mereka jadi saling akrab. Setelah beberapa minggu, ketika pulang sekolah puji mampir kerumahku ( rumah pamanku ) kelihatannya sih mau cerita sesuatu sama aku.
“sob, tau nggak... hari ini gue seneeeenggg banget” kata puji
“bahagia kenapa coy.....?”
“nggak tau juga, tiap kali deket sama dia, serasa hati ini terbaaaaaaaanggg melayang..”
“cie-cieeee.... roman-romannya ada yang jatuh cintrong ni.....” ledek ku
“ngawur lo... tapi kalo dipikir-pikir ada benernya juga”
“mange sapa she yang buat sahabatku ini terbang melayang...??”
“WINA..” jawab puji dengan tenang
“haaahhh.... si wina..?? ya nggak papalah, disamping dia cantik dia juga smart”
“iya sih, tapi gue nggak berani ngungkapinnya”
“ napa nggak berani, wajarkan cowok nembak cewek”
“ bukan itu masalahnya, gue ama wina kan udah temenan dari smp, jadi doi pasti nganggep gue ini cuman sohibnya aja nggak lebih trus gue juga takut doi nolak”
“yaaa.... gue cuman bisa do’a semoga kalian bisa jadian”
Setelah lama cerita tentang si wina, puji pamitan pulang.
Malam harinya aku merenungkan omonganku tadi sore, bahwa sebenarnya aku ini juga merasakan getaran-getaran cinta dihatiku dan cewek yang sudah menggetarkan hatiku adalah wina. Dimana perhatianku selalu tertuju padanya, tapi aku nggak berani ngungkapin perasaanku karena yang ku cintai dicintai sahabatku. Aku nggak bisa berbuat banyak akan cintaku. Aku hanya bisa mengamati dan memberikan solusi yang baik bagi cintanya Meskipun pedih untuk kurasakan. Tapi cintaki malah kujadikan sebagai motivasi untuk menggapai cita-cita dan mencari ketenangan hati dan jiwaku.
Keesokan harinya disekolah aku masih bercanda tawa seperti biasa, celotehan efi yang selalu mengocok perut tak terlupakan seolah-olah menjadi makanan kita sehari-hari. Puji pun asyik mengobrol sama wina, ditengah-tengah kesyikan mengobrol tiba-tiba seorang cewek ( namanya fara ) menyela pembicaraan mereka.
“ sorry pud, pinjem winanya sebentar”
“ okeh “
Fara dan wina pun mengobrol, nggak tau masalah apa yang dibicarain mungkin itu masalah cewek. Saat farad an wina ngobrol, puji pun menghampiri aku dan bertanya dengan suara lirih.
“ sob.... gimana nih.. gue nembak wina sekarang...?”
“ ya terserah lo pud” jawabku lirih
“ semoga cintaku diterima” tuturnya
“ aku do’akan moga berhasil”
Setelah farad an wina selesai ngobrol, puji langsung menghadap wina dan nyuekin aku begitu saja.
“ win.. aku mau bilang sesuatu sama kamu”
“ iya, trus..”
“tapi kamu nggak marah kan kalau aku bilang akk.... akuu....” ujar puji gugup
“ kamu kenapa...? kamu sakit...??? ”
“ nggak win, tapi aku akan sakit jika kamu nggak nerima aku”
“nerima apa...??”
“aku berharap semoga aku bisa menjaga langkahku dan cintaku menuju wisma cintamu. Bolehkah cintaku ini kubawa ke wisma cintamu....?”
“aku nggak nyangka pud, tapi sebenarnya aku juga punya perasaan yang sama seperti kamu.”
“apa maksudmu..?”
“pintu wisma cintaku akan kubuka lebar untuk cintamu”
“itu artinya kamu nerima aku...?” Tanya puji penasaran
Wina Cuma menganggukkan kepala dan tersenyum bahagia.
“ Yeachh....” teriak puji
“ Akhirnya jon perjuanganku nggak sia-sia”
Aku, efi, ariel, turut gembira dan mengucapkan selamat kepada mereka. Itu kulakukan semata-mata untuk menutupi kepedihan hatiku atas cintaku yang tak sampai. Sekaligus menjadi kado pertama dihari ultahku yang ke-19. Mereka semua tidak ingat akan hari jadiku, hari dimana aku dilahirkan, dimana aku seharusnya mendapat kebahagiaan, tapi dengan tidak sengaja mereka memberiku kado special yang seharusnya menjadi kado kebahagiaan tapi menjadi kado yang menyakitkan hati.
Dan aku sebagai teman yang baik hanya bisa mengucapkan selamat. Aku hanya bisa berdo’a semoga mereka bahagia dalam mengarungi samudera cinta yang begitu luas dan melelahkan jiwa. Semoga tidak ada kata perpisahan diantara mereka dan jangan putus asa meskipun itu pedih untuk kalian rasakan.
Aku hanya bisa mencintai dan menutupi kenyataan yang ada. Aku akan mengubur dalam-dalam serta menutup pintu hatiku buat wina. Meskipun semua itu terlalu sulit, sedangkan nurani nggak bisa diajak kompromi.
Semua itu kulakukan demi persahabatan antara aku dan mereka meskipun perjalanan hidup ini harus kunikmati dengan kepedihan, kutahu semuanya itu berat bagiku untuk melupakannya tapi aku orang yang ngerti akan keadilan , mana mungkin aku harus merebutnya dari teman baikku. Aku nggak mau menghianati teman baikku meskipun aku sering menjadi korban penghianatan cinta dan bayang-bayangmu selalu menghantui hari-hariku. Ku akan tetap pada pendirianku, selama mereka sudah tidak terjalin hubungan, mungkin aku masih bisa menerimanya sebagai pendamping hidupku.
Aku akan selalu menantimu disaat cinta ini masih tertuju padamu. Cinta nggak harus memiliki tapi cinta member kebahagiaan bagi yang dicintainya. Sang cinta yang tak tersampaikan, inilah cintaku yang sekarang ini.
BY : NOEZ
Tidak ada komentar:
Posting Komentar